Kekayaan Intelektual Sultan Hasanuddin (ISW)

Promosikan Kekayaan Intelektual Sulawesi Tenggara, Fakultas Syariah IAI Rawa Aopa Siap Mengikuti Celebes Summit

Syariah.rawaaopakonsel.ac.id, Konawe Selatan – Fakultas Syariah Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa menyatakan kesiapannya untuk berpartisipasi dalam ajang Celebes Summit. Perhelatan yang mengintegrasikan aspek pendidikan dan kebudayaan ini direncanakan berlangsung di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin sebagai simbol konektivitas dan gerbang informasi bagi masyarakat luas. Kehadiran IAI Rawa Aopa dalam agenda ini merupakan langkah strategis untuk memperkenalkan sekaligus mempromosikan berbagai kekayaan intelektual serta potensi budaya yang dimiliki oleh Sulawesi Tenggara di panggung regional.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa Konawe Selatan, Ismail Suardi Wekke, menegaskan bahwa partisipasi ini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya serius dalam melakukan syiar akademik, usai memantau pelaksanaan PPL (Selsa, 12 Mei 2026). Menurutnya, Celebes Summit menjadi momentum yang tepat bagi perguruan tinggi untuk menunjukkan kontribusi nyatanya dalam melestarikan nilai-nilai lokal melalui pendekatan ilmiah. Kehadiran delegasi dari Fakultas Syariah diharapkan mampu memberi warna tersendiri dalam diskusi-diskusi intelektual yang akan digelar di lokasi strategis tersebut.

Ismail Suardi Wekke memberikan penekanan khusus mengenai pemilihan lokasi kegiatan yang dinilai sangat inovatif. “Bandara Internasional Sultan Hasanuddin bukan hanya tempat perlintasan penumpang, tetapi kini bertransformasi menjadi ruang dialektika yang mempertemukan pemikiran akademis dengan realitas sosial budaya masyarakat,” ujar Ismail usai bertemu dengan jajaran dekan di IAI Rawa Aopa Konawe Selatan. 

Beliau menambahkan bahwa melalui platform ini, IAI Rawa Aopa ingin memastikan bahwa hasil-hasil riset dan kekayaan intelektual dari Sulawesi Tenggara dapat diakses dan dikenal oleh publik yang lebih luas. “Kami berkomitmen untuk membawa identitas lokal ke level yang lebih tinggi agar literasi mengenai kekayaan Sulawesi Tenggara tidak hanya berhenti di dalam ruang kelas saja,” tegasnya.

Dalam keterangannya lebih lanjut, Ismail menjelaskan bahwa integrasi antara pendidikan dan kebudayaan merupakan kunci dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin dinamis. Ia menyampaikan bahwa kolaborasi ini akan memperkuat posisi institusi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang tetap berpijak pada akar budaya setempat. Selain itu, Ismail memaparkan bahwa persiapan Fakultas Syariah sudah mencapai tahap matang guna menyongsong kegiatan yang dijadwalkan menjadi pusat perhatian para intelektual di Pulau Sulawesi tersebut. 

Terakhir, ia berharap agar sinergi ini dapat terus berlanjut sehingga Bandara Sultan Hasanuddin bisa menjadi pusat edukasi yang inklusif bagi setiap pengunjung yang melintas. “Terima kasih kepada Bandara Internasional Sultan Hasanuddin yang telah berkenan menjadi mitra,” pungkas Ismail Suardi Wekke yang sukses menggelar Sultan Hasanuddin Forum on Research and Innovation di akhir April lalu sebagai forum internasional yang mendatangkan pembicara Jepang dan Malaysia.

Kekayaan Intelektual (ISW)

IAI Rawa Aopa Rancang Program Akselerasi Kekayaan Intelektual dan Indikasi Geografis

Syariah.rawaaopakonsel.ac.id, Konawe Selatan – Institut Agama Islam (IAI) Rawa Aopa Konawe Selatan tengah mematangkan rencana strategis untuk mengakselerasi perlindungan Kekayaan Intelektual (KI) dan Indikasi Geografis (IG) di wilayah Sulawesi Tenggara. Langkah ini diwujudkan melalui usulan kolaborasi intensif dengan Kementerian Hukum Republik Indonesia melalui Kantor Wilayah Sulawesi Tenggara guna memastikan potensi lokal dan inovasi akademik mendapatkan pengakuan hukum yang kuat.

Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Kepegawaian IAI Rawa Aopa, Ismail Suardi Wekke, menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan bagian dari tanggung jawab institusi dalam mengawal aset intelektual daerah usai memantau pelaksanaan PPL Fakultas Tarbiyah IAI Rawa Aopa Konawe Selatan (Selasa, 12 Mei 2026). Beliau menyatakan bahwa kolaborasi dengan Kanwil Kemenkumham Sultra adalah langkah krusial untuk menjembatani antara hasil riset perguruan tinggi dengan perlindungan hukum yang formal. 

Selain itu, Ismail menyampaikan bahwa fokus utama program ini mencakup pendampingan bagi masyarakat lokal dalam mengidentifikasi potensi Indikasi Geografis yang unik di Konawe Selatan. Ia juga menekankan bahwa “Akselerasi ini bukan sekadar prosedur administratif, melainkan upaya konkret dalam meningkatkan nilai ekonomi berbasis komoditas dan kreativitas lokal.”

Dalam penjelasannya lebih lanjut, Ismail Suardi Wekke menguraikan pentingnya ekosistem inovasi yang terproteksi bagi para dosen dan peneliti. Beliau menuturkan bahwa “Kami berkomitmen untuk menjadikan IAI Rawa Aopa sebagai pusat inkubasi kekayaan intelektual yang mampu memberikan dampak luas bagi pembangunan regional.” 

Di sisi lain, ia juga menyoroti bahwa kesadaran akan hak cipta dan paten harus menjadi budaya di lingkungan kampus agar setiap karya yang lahir memiliki daya saing di tingkat nasional maupun internasional. Ismail menambahkan, “Sinergi dengan Kementerian Hukum akan membuka pintu bagi percepatan pendaftaran merek kolektif dan hak paten yang selama ini sering kali terkendala oleh kurangnya pemahaman prosedural.”

Program akselerasi ini direncanakan akan mencakup serangkaian workshop teknis, klinik kekayaan intelektual, dan pemetaan potensi geografis yang ada di wilayah Sulawesi Tenggara. Dengan adanya kerja sama ini, diharapkan angka pendaftaran kekayaan intelektual dari sektor pendidikan dan pelaku usaha lokal dapat meningkat secara signifikan dalam waktu dekat. IAI Rawa Aopa optimis bahwa integrasi antara kebijakan pemerintah dan kepakaran akademik akan memperkuat posisi Sulawesi Tenggara dalam peta inovasi nasional.